Sekitar
empat tahun lalu, sekelompok mehasiswa di fakultas sastra dan budaya unkhair
yang gelisah dan prihatin melihat kondisi pemuda yang lupa terhadap kebudayaan
dan pengetahuan-pengetahuan lokalnya sendiri. Hal ini membuat membuat mereka
membentuk sebuah komunitas yang diberi nama ‘Rumput Taky atau Komunitas Taky”.
Komunitas Taky sendiri mengusung sebuah
prinsip dasar pergerakan yang terdiri dari lima poin yaitu, Pemilik kebudayaan moloku kie raha adalah rakyat
sekaligus satu-satunya pencipta kebudayaan, Karya merupakan gerakan pendidikan untuk pemahaman
kebudayaan, kualitas
Karya harus tertuju kepada realitas yang nyata yaitu kebudayaan, seni dan
sastra sebagai jalur berkarya dalam pergerakan dan tidak memandang perbedaan kebudayaan
dan slalu menghargai kebudayaan antar sesama.
Maksud dan tujuan
rumusan dari prinsip dasar pergerakan Komunitas Taky yaitu untuk bisa membangun
kesadaran kepada semua lapisan masyarakat agar bisa mempertahankan kebudayaan
atau kearifan-kearifan lokal peninggalan leluhur.
Komunitas Taky
sendiri mengutamakan kebersamaan dengan rakyat, belajar bersama rakyat dan
menjadikan karya-karya seni sebagai pendidikan dan kampanye yang muda diserap
oleh rakyat, semangat gotong royong menjadi ruh untuk hidup di tengah-tengah
masyarakat dan berkarya bersama.
Beberapa tahun berjalan banyak aksi-aksi dilakukan,
diantaranya aksi sosial dan seni. Komunitas ini membentuk kelompok seni dengan
karya-karya yang mengkampanyekan mengenai mempertahankan kebudayaan. Pada tahun
2013, komunitas taky dan beberapa komunitas lainnya melakukan touring untuk
pertama kalinya dan melakukan kegiatan budaya di desa Lelilef, Weda Tengah,
Halmahera Tengah. Disana juga telah terbentuk sebuah komunitas yang sama
tujuannya dengan Taky, yaitu Komunitas Loga-Loga Kreativ yang dibentuk oleh
seorang kawan.
Pada tahun 2014 komunitas taky juga melakukan touring
di berbagai desa di kabupaten halmahera utara, disana sekaligus membentuk
beberapa kelompok atau sanggar seni yang tujuannya sama dengan Taky. Setelah
balik dari halmahera, komunitas taky seperti biasa melakukan rutinitas yaitu
kajian, pendidikan kebudayaan, pementasan seni dan lain-lain.
Namun kegiatan komunitas sempat vakum dan kurang mulus
perjalanannya karena ada kekurang-sepahaman antara beberapa anggota yang
membuat hengkangnya komunitas ini. Akhirnya komunitas ini tersisa dua orang¹
yang masih menjalankan aktivitas komunitas.
Sekitar oktober 2014, komunitas Taky sendiri mempunyai
anggota baru sekitar lima orang². Kami yang ada kemudian mulai mengorganisir anak-anak
di kelurahan gamalama dan mempunyai sekitar 20 anggota baru. Disnilah kami
memulai kebangkitan dengan program-program baru, diantaranya perpustakaan dan
pelatihan seni. Program ini berjalan agak tersendat karena ada beberapa
kekurangan diantaranya mengenai pendanaan.
Pada
bulan maret 2015, komunitas taky kembali mengorganisir dan
merekrut anggota baru di kawasan pasar yang matoritas anggotanya biasa disebut
anak pasar. Pada saat yang sama, Taky meluncurkan sebuah program bernama Literasi Jalanan. Program ini bertujuan untuk memfasilitasi pendidikan alternatif (menulis, membaca, berhitung) bagi anak-anak jalanan yang tidak menempuh bangku
pendidikan maupun putus sekolah. Hal ini dibuat karena komunitas taky sendiri
hidup ditengah hiruk pikuk masyarakat kelas bawah dan umummnya dijalanan, kami
melihat bahwa anak-anak banyak yang jauh dari jangkauan pendidikan dan hanya
berkeliaran dijalan.
Tepat pada tanggal 22 maret, kami melakukan
kegiatan belajar perdana untuk program literasi jalanan ini. Pada saat itu
hanya beberapa anak-anak yang hadir.
Tanggal 28 maret kami melakukan rapat internal
pengurus komunitas taky, Saya (Adlun Fiqri), Faris Bobero, Andri, Yunus dan As.
Dalam kesepakatan komunitas,bahwa yang mengkordinatori program kegiatan maupun
seluruh kegiatan komunitas lainnya adalah Adlun Fiqri dan Yunus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar